Selasa, 01 Januari 2013

Pasukan bertugas mulia

Entahlah dimana hati mereka..

Suatu siang yang terik, dengan peluh yang menetes deras dan rasa pusing yang mendera akibat belum makan siang sungguh menambah penderitaan panjang yang harus kualami. Ya, Tangerang-Depok via kereta yang kutempuh setiap harinya untuk ke kampus hari ini sungguh terasa makin berat. 

Setelah lelah berdiri berdesakan dari Stasiun UI-Tanah Abang dengan kereta ekonomi, kesabaranku kembali diuji. Kereta dari arah Bogor tiba di peron 3 sedangkan kereta yang harus kembali kunaiki ada di peron 6. Dengan jeda waktu yang tidak lebih dari 5 menit, alhasil aku berlarian sekuat tenaga untuk mencapai peron 6 dan yang terpenting tidak ketinggalan kereta. Biasanya di siang hari, stasiun besar yang dekat dengan pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara ini lengang. Hanya satu-dua pedagang yang terlihat lalu lalang dan beberapa ibu-ibu yang kesusahan membawa barang dagangan serta anak balita mereka yang merengek. Mereka terlihat gusar menunggu kedatangan kereta yang penuh ketidakjelasan. Namun, siang ini sungguh berbeda....

Peron 5-6 disesaki dengan puluhan pria tegap berseragam hijau lumut. Lengkap dengan baret ungu, carrier raksasa dan beberapa peralatan lain yang menambah sesak dan semerawutnya peron yang tidak lebih dari 5 meter ini. Puluhan anggota TNI angkatan darat ternyata diberi amanah untuk melaksanakan tugas mulia, yaitu menjaga keamanan dan ketertiban kereta api. Ya, menjaga ketertiban dan keamanan di kereta api. Akan tetapi, semua jauh dari kenyataan. Peluit panjang berbunyi, speaker usang di ujung peron samar-samar mengumumkan kedatangan kereta ekonomi tujuan Serpong. Aku pun bersiap berdiri di pinggir peron 6. Pasukan berbadan besar tersebut ternyata juga bersiap naik. Huh, betapa kesalnya aku membayangkan sesaknya kereta nanti. Ternyata perkiraanku benar bahkan lebih parah. Pengemban amanah mulia tersebut tidak berperilaku mulia. Dengan ganasnya mereka merangsek masuk ke dalam kereta, tanpa memerdulikan aku dan beberapa ibu-ibu tua yang membawa banyak barang dagangan. Hup hup hup, 1, 2, 3....dan mereka semua masuk, barulah kami penumpang memiliki kesempatan untuk masuk.

Sialnya nasibku siang ini, aku tidak dapat tempat duduk. Padahal biasanya siang-siang begini kereta ekonomi  walaupun sesak masih menyisakan beberapa tempat kosong. Tidak dapat tempat duduk itu hal biasa, tapi yang membuatku terkejut adalah sebagian besar bangku ditempati oleh pasukan berseragam hijau tersebut. Aku berdiri pasrah bergantung pada pegangan di hadapan mereka. Kereta berjalan...menit-menit berlalu, tibalah di Stasiun Palmerah dan memberi waktu beberapa penumpang turun dan naik. Lalu masuklah seorang ibu berpakaian sederhana dengan kesusahan menggendong anaknya yang kukira tidak lebih dari 3 tahun. Anak kecil itu terlihat sangat tidak nyaman, kepanasan dan kelelahan. Begitu pula yang terlihat dari wajah ibunya. Dengan sabarnya ibu tersebut mengipasi anaknya dan menenangkannya agar anak tersebut tidak rewel. Huh! Melihat keadaan tersebut di depan matanya, pasukan berseragam hijau tersebut tetap diam tidak bergeming. Tak acuh dengan keadaan sekitar. Beberapa dari mereka justru asyik merokok dan memainkan hp. Sungguh aku tidak habis pikir! Sebenarnya dimana hati nurani mereka.. Mereka tidak memiliki tiket dan mereka itu DITUGASKAN untuk MENJAGA keamanan dan ketertiban di dalam kereta, bukan justru menyusahkan dan menyulitkan para penumpang dengan sikap mereka dan carrier besar yang menghalangi jalan. Sudah seharusnya mereka mengalah dan berbesar hati untuk mendahulukan ibu dan anak itu, bukannya malah menikmati fasilitas yang bukan haknya. Wajahku terasa memanas, panas karena geram dengan tingkah mereka. Kalau saja aku yang ada di posisi mereka, tanpa berpikir panjang pasti akan kuikhlaskan tempatku untuk ibu dan anak tersebut. Tidak kah mereka pernah membayangkan? Apabila ibu dan anak tersebut adalah anak dan istrinya yang kesulitan dan butuh pertolongan? Entahlah, dimana rasa kepedulian dan hati nurani mereka..

Rasanya ingin aku menegur mereka.. Tapi sebelum kutunaikan niatku itu, Alhamdulillah seorang bapak yang duduk agak jauh dari tempat ibu, anak dan aku berada mau berbaik hati memberikan tempat duduknya untuk ibu dan anak tersebut.. Allah menunjukan kasih sayangNya kepada ibu dan anak tersebut. Kasih sayang Allah tidak berhenti sampai disitu, dengan kepala yang terasa semakin pening, perut yang terasa diaduk-aduk.. Sungguh aku merasa tidak kuat lagi untuk berdiri. Akan tetapi, seorang bapak baik hati mencolek bahuku dari belakang dan memersilahkan aku untuk duduk di tempatnya. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Terima kasih tak lepas kuucapkan kepada bapak itu.. Alhamdulillah..

Ya, hari itu aku mendapatkan banyak pelajaran penting. Betapa bumi pertiwi ini memerlukan pemimpin amanah yang berhati besar.. Peduli dengan sesama. Bukan pemimpin yang egois dan mementingkan diri sendiri. Kejadian tadi membukakan mataku akan suatu hal penting. Bangsa ini butuh pemimpin yang amanah untuk bersama mewujudkan suatu perubahan ke arah yang lebih baik. Aku ingin menjadi salah satu bagian dari perubahan itu. Setidaknya aku berusaha untuk menjadi pemimpin yang amanah bagi diriku sendiri terlebih dahulu. Pemimpin yang dapat membebaskan diriku dari segala rasa egois.

Semoga Allah berbaik hati membukakan pintu hati mereka.. Agar kelak mampu menjadi pemimpin yang amanah adil dan peduli sesama.. Pemimpin yang mampu menjadi cahaya bagi kegelapan kehidupan bangsa penuh krisis ini.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

coolments