Rabu, 16 Januari 2013

.


Ketika Pedagang Harus Menunggu Pak Jonan di Atas Rel

Image
Saya menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya pelan-pelan. Sembari memejamkan mata untuk beberapa lama, lantas memaknai ulang nasihat itu:“Jangan pernah salahkan mereka yang tidak tahu.”
Para pedagang stasiun ini, bersama mahasiswa, KRL Mania dan LBH Jakarta sudah tempuh jalan yang amat sangat manis: dua kali datangi BUMN, tiga kali datangi Komnas HAM (Komnas HAM keluarkan 2 surat teguran dan entah berapa kali teguran lisan), datangi Istana, bahkan datangi Kantor PT KAI di Bandung. Kesemuanya dilakukan untuk sebuah niat baik untuk kebaikan bersama: adanya dialog yang komprehensif antara PT KAI dengan Pedagang.
Mengapa perlu ada dialog yang komprehensif? Karena tentang kontrak, transaksi, dan segala deal yang pernah dibuat antara pedagang pemilik kios dengan PT KAI (yang sekalipun itu hanya oknum Pejabat PT KAI, tetap saja tanggung jawab PT KAI) ada berbagai versi dengan kerumitan kasus yang berbeda. Dengan kronologis yang beragam. Dan jelas dengan Pejabat PT KAI yang juga mungkin berbeda. Sebab itu kami pikir penting kiranya KAI sebagai sebuah Badan Usaha Milik Negara yang seharusnya turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi, dan masyarakat (sesuai maksud dan tujuan pendirian BUMN dalam UU no 19 2003 tentang BUMN) ini bersedia mengesampingkan sejenak arogansinya untuk sama-sama membahas masalah ini dengan para pedagang.
Mengapa perlu ada dialog yang komprehensif? Karena ini berkaitan dengan hidup ribuan orang (khususnya penggiat usaha yang bergantung pada keberadaan kios-kios merka di stasiun). Hidup yang saya maksud di sini adalah hidup dalam arti paling sederhana: bisa terus bernafas, makan dan minum.
Jalur hukum pun tengah ditempuh. Tapi bisakah kita menggantungkan nasib hanya pada hukum Indonesia yang prosesnya entah berapa tahun dan begitu mudah dibeli?
Saya juga ingin menyampaikan beberapa hal yang saya dapatkan di lapangan.
Ada yang bilang para pedagang ini sudah menyepakati kontrak bahwa mereka harus bersedia digusur tanpa ganti rugi. Mungkin ini jadi kelalaian pedagang beberapa tahun lalu. Tapi apa yang harus mereka lakukan bila mereka (yang sedang tertekan dan hidup dalam keterpaksaan ini) dipaksa setuju dan tanda tangan dengan ancaman tak boleh lagi berdagang? Alhasil, mereka tandatangani lah perjanjian yang dibuat sepihak tersebut (perjanjian ini pun punya beberapa versi). Alhasil, mereka beli lah kios-kios belasan sampai puluhan juta itu—sebagian dengan menghutang.
Ada yang bilang para pedagang ini sudah setuju kios-kiosnya dibongkar. Adakah yang bisa membayangkan apa yang dirasakan para pedagang bila sang kepala stasiun memberikan surat pemberitahuan penggusuran ini dengan ditemani 5 orang Brimob dan 5 orang marinir bersenjata laras panjang? Lalu dipaksa tanda tangan tabel kosong. Lalu hampir tiap hari merasa terintimidasi oleh aparat-aparat tersebut yang mondar-mandir di depan kios mereka. Jadi apakah benar sebagian pedagang sudah setuju? Bukan. Bukan Setuju. Tapi pasrah dalam ketakberdayaan.
Jadi, jangan. Jangan pernah samakan pola pikir para pedagang dengan Dirut PT KAI yang sudah pasti cerdas karena katanya pernah sekolah di Harvard.
Kemudian tentang aksi menunggu kehadiran Dirut KAI Ignasius Jonan di atas rel beberapa hari yang lalu, tentu kami mohon maaf sebesar-besarnya atas kenyamanan yang sempat terganggu.
Namun barangkali ada beberapa hal yang juga perlu kita renungkan:
Bila kita, yang biasa tempuh perjalanan dalam waktu 1-2jam lalu dengan keterlambatan kereta ini jadi merasa cemas dan kesal selama lebih kurang 5jam, bagaimana dengan para pedagang yang hampir dua bulan terakhir ini tak pernah nyenyak tidurnya karena dihantui ketakutan: tentang akan makan apa keluarganya, akan bagaimana masa depan anak-anaknya, akan bagaimana pekerjaannya, akan apa yang dilakukan ketika kiosnya (sebagai sumber penghidupannya selama bertahun-tahun ini) diratakan begitu saja. Tanpa kejelasan bahkan sekadar dialog.
Bila kita, yang biasa tempuh perjalanan dalam waktu 1-2jam lalu dengan keterlambatan kereta ini jadi terlambat bertemu keluarga di rumah, bagaimana dengan para pedagang yang bila jadi digusur dalam waktu 3jam saja keluarganya kehilangan masa depan.
Dan bila Bapak Ignasius Jonan, sudah ditunggu di atas rel saja tidak bersedia hadir bahkan sekadar kirimkan perwakilannya untuk bicara dengan para pedagang, betapa arogannya Direktur Umum PT KAI (yang merupakan Badan Usaha Milik Negara) ini. Tawaran “kami akan berhenti menunggu di rel bila Ignasius Jonan atau setidaknya perwakilannya menemui kami” itu entah dianggap sebagai apa. Padahal harusnya ada reaksi yang sigap, bila Pak Jonan memang tulus ingin mengutamakan pelayanan publik.
Saya juga menyesalkan Pak Gubernur Jakarta, Jawa Barat, dan Walikota Depok yang sampai sekarang masih diam saja (belum bersikap) padahal rakyatnya jelas-jelas telah diintimidasi polisi dan marinir bersenjata, dianiaya oleh preman bayaran PT KAI dan dilanggar HAM-nya. Sebagian telah dirampas pekerjaannya. Semoga Bapak-bapak sekalian juga bisa segera bertindak, bantu mediasi dan ikut pikirkan nasib para pedagang ini. Dan yang dibutuhkan para pedagang bukanlah spanduk besar dengan senyum sumringah dan ucapan belasungkawa dari Bapak, tapi tindakan dan tanggungjwab tegas seorang pemimpin: seorang yang bergantung padanya harapan jutaan rakyat.
~
Foto-foto penggusuran (thanks Bang Garda Sembiring)
Preman yang ujug2 datang
Para preman berperawakan Indonesia timur yang tiba-tiba datang dengan linggis dan balok menyerang kios secara membabi buta
2 Preman dan polisi berkolaborasi gusur kios
Preman dan polisi berkolaborasi bongkar paksa kios dan lakukan penganiyaan terhadap pemilik kios dan mahasiswa
3 Penggusuran dilanjutkan oleh aparat
Penggusuran dilanjutkan oleh aparat
Upaya pertahankan kios terakhir, mahasiswa dan pedagang vs preman dan polisi
Upaya pertahankan kios terakhir, mahasiswa dan pedagang vs preman dan polisi
Ibu Mariana, pemilik kios yang akhirnya hanya bisa pasrah dan menangis didampingi mahasiswa
Ibu Mariana, pemilik kios yang akhirnya hanya bisa pasrah dan menangis didampingi mahasiswa
6 Sisa2 penggusuran
Sisa-sisa gusuran, puing-puing masa depan
7 Di atas rel Pedagang tunggu klarifikasi Jonan atas penyewaan preman
Di atas rel, pedagang tunggu klarifikasi Ignasius Jonan / Perwakilan KAI atas pembongkaran paksa dan penganiayaan yang dilakukan Preman sewaan PT KAI
Mohon bantu sebarkan tulisan ini via Twitter, Facebook (terutama post di group-group), Broadcast Message, Group BBM, Group Whatsapp, dan semua media yang bisa digunakan. Silahkan copy-paste, kutip, reblogrepost, atau apapun selama untuk tujuan yang baik: mengabarkan kebenaran ke seluruh Indonesia. Copy-paste link ini wp.me/p28mfM-xD 
stasiun duri
Azhar Nurun Ala ( @AzharNurn )
Mahasiswa UI Angkatan 2009
Wakil Ketua BEM UI 2013

Dikutip dari : http://azharologia.wordpress.com/2013/01/16/ketika-pedagang-menunggu-pak-jonan-di-atas-rel/

Selasa, 01 Januari 2013

Pasukan bertugas mulia

Entahlah dimana hati mereka..

Suatu siang yang terik, dengan peluh yang menetes deras dan rasa pusing yang mendera akibat belum makan siang sungguh menambah penderitaan panjang yang harus kualami. Ya, Tangerang-Depok via kereta yang kutempuh setiap harinya untuk ke kampus hari ini sungguh terasa makin berat. 

Setelah lelah berdiri berdesakan dari Stasiun UI-Tanah Abang dengan kereta ekonomi, kesabaranku kembali diuji. Kereta dari arah Bogor tiba di peron 3 sedangkan kereta yang harus kembali kunaiki ada di peron 6. Dengan jeda waktu yang tidak lebih dari 5 menit, alhasil aku berlarian sekuat tenaga untuk mencapai peron 6 dan yang terpenting tidak ketinggalan kereta. Biasanya di siang hari, stasiun besar yang dekat dengan pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara ini lengang. Hanya satu-dua pedagang yang terlihat lalu lalang dan beberapa ibu-ibu yang kesusahan membawa barang dagangan serta anak balita mereka yang merengek. Mereka terlihat gusar menunggu kedatangan kereta yang penuh ketidakjelasan. Namun, siang ini sungguh berbeda....

Peron 5-6 disesaki dengan puluhan pria tegap berseragam hijau lumut. Lengkap dengan baret ungu, carrier raksasa dan beberapa peralatan lain yang menambah sesak dan semerawutnya peron yang tidak lebih dari 5 meter ini. Puluhan anggota TNI angkatan darat ternyata diberi amanah untuk melaksanakan tugas mulia, yaitu menjaga keamanan dan ketertiban kereta api. Ya, menjaga ketertiban dan keamanan di kereta api. Akan tetapi, semua jauh dari kenyataan. Peluit panjang berbunyi, speaker usang di ujung peron samar-samar mengumumkan kedatangan kereta ekonomi tujuan Serpong. Aku pun bersiap berdiri di pinggir peron 6. Pasukan berbadan besar tersebut ternyata juga bersiap naik. Huh, betapa kesalnya aku membayangkan sesaknya kereta nanti. Ternyata perkiraanku benar bahkan lebih parah. Pengemban amanah mulia tersebut tidak berperilaku mulia. Dengan ganasnya mereka merangsek masuk ke dalam kereta, tanpa memerdulikan aku dan beberapa ibu-ibu tua yang membawa banyak barang dagangan. Hup hup hup, 1, 2, 3....dan mereka semua masuk, barulah kami penumpang memiliki kesempatan untuk masuk.

Sialnya nasibku siang ini, aku tidak dapat tempat duduk. Padahal biasanya siang-siang begini kereta ekonomi  walaupun sesak masih menyisakan beberapa tempat kosong. Tidak dapat tempat duduk itu hal biasa, tapi yang membuatku terkejut adalah sebagian besar bangku ditempati oleh pasukan berseragam hijau tersebut. Aku berdiri pasrah bergantung pada pegangan di hadapan mereka. Kereta berjalan...menit-menit berlalu, tibalah di Stasiun Palmerah dan memberi waktu beberapa penumpang turun dan naik. Lalu masuklah seorang ibu berpakaian sederhana dengan kesusahan menggendong anaknya yang kukira tidak lebih dari 3 tahun. Anak kecil itu terlihat sangat tidak nyaman, kepanasan dan kelelahan. Begitu pula yang terlihat dari wajah ibunya. Dengan sabarnya ibu tersebut mengipasi anaknya dan menenangkannya agar anak tersebut tidak rewel. Huh! Melihat keadaan tersebut di depan matanya, pasukan berseragam hijau tersebut tetap diam tidak bergeming. Tak acuh dengan keadaan sekitar. Beberapa dari mereka justru asyik merokok dan memainkan hp. Sungguh aku tidak habis pikir! Sebenarnya dimana hati nurani mereka.. Mereka tidak memiliki tiket dan mereka itu DITUGASKAN untuk MENJAGA keamanan dan ketertiban di dalam kereta, bukan justru menyusahkan dan menyulitkan para penumpang dengan sikap mereka dan carrier besar yang menghalangi jalan. Sudah seharusnya mereka mengalah dan berbesar hati untuk mendahulukan ibu dan anak itu, bukannya malah menikmati fasilitas yang bukan haknya. Wajahku terasa memanas, panas karena geram dengan tingkah mereka. Kalau saja aku yang ada di posisi mereka, tanpa berpikir panjang pasti akan kuikhlaskan tempatku untuk ibu dan anak tersebut. Tidak kah mereka pernah membayangkan? Apabila ibu dan anak tersebut adalah anak dan istrinya yang kesulitan dan butuh pertolongan? Entahlah, dimana rasa kepedulian dan hati nurani mereka..

Rasanya ingin aku menegur mereka.. Tapi sebelum kutunaikan niatku itu, Alhamdulillah seorang bapak yang duduk agak jauh dari tempat ibu, anak dan aku berada mau berbaik hati memberikan tempat duduknya untuk ibu dan anak tersebut.. Allah menunjukan kasih sayangNya kepada ibu dan anak tersebut. Kasih sayang Allah tidak berhenti sampai disitu, dengan kepala yang terasa semakin pening, perut yang terasa diaduk-aduk.. Sungguh aku merasa tidak kuat lagi untuk berdiri. Akan tetapi, seorang bapak baik hati mencolek bahuku dari belakang dan memersilahkan aku untuk duduk di tempatnya. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Terima kasih tak lepas kuucapkan kepada bapak itu.. Alhamdulillah..

Ya, hari itu aku mendapatkan banyak pelajaran penting. Betapa bumi pertiwi ini memerlukan pemimpin amanah yang berhati besar.. Peduli dengan sesama. Bukan pemimpin yang egois dan mementingkan diri sendiri. Kejadian tadi membukakan mataku akan suatu hal penting. Bangsa ini butuh pemimpin yang amanah untuk bersama mewujudkan suatu perubahan ke arah yang lebih baik. Aku ingin menjadi salah satu bagian dari perubahan itu. Setidaknya aku berusaha untuk menjadi pemimpin yang amanah bagi diriku sendiri terlebih dahulu. Pemimpin yang dapat membebaskan diriku dari segala rasa egois.

Semoga Allah berbaik hati membukakan pintu hati mereka.. Agar kelak mampu menjadi pemimpin yang amanah adil dan peduli sesama.. Pemimpin yang mampu menjadi cahaya bagi kegelapan kehidupan bangsa penuh krisis ini..